Senin, 07 Mei 2012

Vinsensius Loki, Membawa Kopi Ngada Mendunia
 Vinsensius Loki
HEADLINE NEWS - Kopi arabika Flores Bajawa dari Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, telah menjadi kopi kelas dunia. Sebelum itu, perjuangan harus dilalui petani untuk mengangkat kualitas kopi Ngada hingga tingkat dunia. Upaya itu tak lepas dari sosok Vinsensius Loki.
Tahun 1999 Vinsensius nekat mengembangkan kopi meski saat itu apa yang dia lakukan ibarat menantang badai. Pasalnya, saat itu adalah masa keemasan vanili di Ngada hingga tahun 2003. Petani meraih keuntungan karena tingginya harga vanili.
”Banyak warga menolak ajakan saya mengembangkan kopi sebab harga biji vanili basah saja Rp 300.000 per kilogram (kg) dan biji vanili kering Rp 1,5 juta per kg. Bahkan, ada petani yang bisa membeli mobil baru dari hasil menjual vanili. Sedangkan harga kopi gelondong merah waktu itu rata-rata dibeli tengkulak Rp 600 per kg dan kopi biji kering Rp 8.000 per kg,” katanya.
Namun, ia berkeyakinan komoditas kopi, khususnya kopi arabika, lebih cocok dikembangkan di kampung halamannya, Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Ngada, dibandingkan dengan vanili.
Desa Beiwali berada di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini cocok untuk pengembangan kopi arabika yang bisa tumbuh di daerah ketinggian 900 meter-1.600 meter di atas permukaan laut. Apalagi, warga setempat juga banyak yang memiliki tanaman kopi meski tak dirawat dengan sistem budidaya yang baik sehingga tingkat produksi dan mutunya rendah. Harga kopi pun mudah dipermainkan tengkulak karena petani belum punya kelembagaan yang kuat.
Vinsensius lalu melakukan pendekatan kepada sejumlah warga hingga terkumpul 25 orang yang mau bergabung dengannya. Mereka membentuk Kelompok Tani Penghijauan dan Rehabilitasi Lahan dengan program kerja lima tahun. Dalam kelompok itu dia menjadi ketuanya. Program awal mereka membudidayakan 1.000 pohon kopi per anggota yang dilakukan secara swadaya. Mereka juga mengembangkan pakan ternak seluas 1.000 meter persegi per anggota, dan menanam tanaman kayu lokal.
Mereka bertekad mengembangkan kopi organik sehingga anggota didorong memelihara ternak, seperti sapi, agar kotorannya bisa menjadi pupuk untuk tanaman kopi. Selain ternak itu pun dapat dijadikan alternatif ekonomi petani dalam kondisi sulit. Pengurus kelompok tani itu enam orang, yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, seksi peternakan, seksi perkebunan, dan seksi kehutanan. Total lahan kopi yang dimiliki kelompok ini tahun 1999 sekitar 40 hektar.
”Pertimbangan dibentuknya kelompok ini karena kami ingin mendapat bimbingan dan bantuan pemerintah daerah. Ini penting agar petani kopi bisa maju. Waktu itu syaratnya harus ada kelompok tani secara kelembagaan, program kerja, rapat bulanan, dan evaluasi tahunan,” katanya.
Berbuah dan ekspor
Tahun 2002 atau tiga tahun kemudian, pohon kopi mereka mulai berbuah. Ketika itu, harga vanili mulai turun, bahkan pada 2003 harga vanili di Ngada terpuruk. Harga biji vanili kering Rp 4.500 per kg, sedangkan biji vanili basah Rp 2.500 per kg.
Tahun 2002 Vinsensius mengajukan proposal pemberdayaan kelompok kepada DPRD setempat. Proposal mereka disetujui, dan pengurus kelompok ini pun mendapat pendidikan dan pelatihan dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Ngada. Mereka antara lain belajar tentang kepemimpinan sampai manajemen keuangan.
Tahun 2003 mereka dikukuhkan menjadi kelompok tani produktif. Pada tahun 2004 Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) memberikan pelatihan dan pendampingan. Tujuannya, agar kelompok ini dapat meningkatkan produksi dan mengolah kopi bermutu yang berorientasi pasar nasional maupun internasional.
Tahun 2005, untuk pertama kali di Ngada dibentuk Unit Pengolahan Hasil (UPH) kopi bernama UPH Kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) Fa Masa. Di sini Vinsensius pun menjadi ketua. PPKKI lalu melakukan uji laboratorium. Hasilnya, mutu fisik kopi UPH AFB Fa Masa berkategori mutu 1 dan diminati pembeli dari Amerika Serikat (AS). Jadilah tujuh ton kopi UPH AFB Fa Masa diekspor ke AS.
Jumlah ekspor itu masih jauh dari permintaan AS sebanyak 1.000 ton per tahun. PPKKI lalu merekomendasikan dibentuknya lebih banyak UPH. Maka, tahun 2011 terbentuk 14 UPH kopi. Sampai tahun 2011, ekspor kopi ke AS rata-rata baru terpenuhi sekitar 300 ton per tahun.
Geografis menunjang
Dari sembilan kecamatan di Ngada, hanya dua yang menghasilkan kopi AFB karena faktor geografisnya menunjang, yakni Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa. Harga kopi arabika di Ngada pun meningkat dan menguntungkan petani. Tahun 2011 harga gelondong merah (buah kopi masak dipetik dari pohon) yang dijual petani ke UPH sekitar Rp 6.000 per kg, dan kopi biji kering yang dijual ke eksportir Rp 51.000 per kg.
”Dalam satu musim, petani bisa berpenghasilan Rp 20 juta,” kata Vinsensius, yang anggota kelompoknya kini 151 orang. Areal kebun di Beiwali pun menjadi 167 hektar.
UPH AFB Fa Masa pun berkembang. Tahun 2007 dibentuk Koperasi Serba Usaha Fa Masa. Dalam lima tahun, aset koperasi itu sekitar Rp 2 miliar.
Ia terus berinovasi. Gelondong kopi sortiran yang tak memenuhi standar kualitas eksportir diolah menjadi kopi bubuk. Kopi ini lalu dipasarkan ke luar Nusa Tenggara Timur, bahkan sampai Filipina. Selain itu, sejak tahun 2002, kelompoknya juga mempersiapkan lahan seluas sembilan hektar untuk mengembangkan kakao.
”Penanaman kakao dimaksudkan sebagai alternatif pendapatan sebab masa panen dan pengolahan kopi itu antara Mei dan Oktober. Di luar masa itu, kakao diharapkan dapat memberi penghasilan bagi petani. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia juga menjamin akan menyerap produksi kakao kami,” tutur Vinsensius yang memiliki 500 pohon kakao.

Minggu, 06 Mei 2012

Umar Sulap Eceng Gondok Citarum Jadi Perabot
 
Umar (50), warga Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengolah eceng gondok menjadi meja dan kursi. Hari Minggu (6/5/2012), Umar sedang duduk di atas kursi buatannya.
PURWAKARTA- Usaha yang dirintis Umar (50), warga Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, layak jadi alternatif mengatasi meledaknya populasi eceng gondok di aliran Sungai Citarum. Berbekal ketekunan dan keterampilan, tanaman liar itu bisa disulap jadi meja dan kursi.
Usaha Umar tergolong baru. Setelah menerima pelatihan dari Perum Jasa Tirta (PJT) II tahun 2010, Umar dan beberapa warga Kecamatan Sukasari, kecamatan di seberang Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, membuka usaha pembuatan meja dan kursi berbahan baku eceng gondok. Meski masih relatif kecil, usaha itu bertahan hingga kini.
"Bahan baku eceng gondok sangat melimpah, banyak lokasi di aliran Sungai Citarum ditumbuhi tanaman liar itu. Saya membeli eceng gondok kering dari warga di sekitar Bendung Curug di Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang. Namun, lokasi tumbuhnya eceng gondok sebenarnya ada di mana-mana dan itu bisa dimanfaatkan," kata Umar.
Umar kini mengolah sekitar 250 kilogram eceng gondok kering per bulan. Dari bahan baku sebanyak itu, Umar bisa membuat 2-3 set meja dan kursi tamu yang dia jual Rp 2,5 juta per set.
Sambil keliling mengikuti pameran-pameran, Umar dan beberapa perajin di desanya terus memproduksi meja-kursi eceng gondok. Perajin lain tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sukasari, yakni Ciririp, Kertamanah, dan Parungbanteng.
Desa-desa itu selama ini terisolasi akibat buruknya kondisi jalan. Akibatnya, mobilitas warga lebih sering mengandalkan moda transportasi air melalui Waduk Ir H Djuanda.
Eceng gondok menjadi persoalan tersediri bagi Citarum. Tanaman itu tumbuh subur di beberapa sudut aliran. Tak jarang keberadaannya menghambat aliran dan menutup saluran air di pintu-pintu pembagi, seperti kerap terlihat di Bendung Curug dan Bendung Walahar.

Senin, 30 April 2012

CEO Matahari, Ritel Sangat Berprospek
Benjamin Mailool (tengah) 
MEDIA INFORMASI - Sebagai ”chief executive officer” sebuah raksasa ritel di Indonesia, Benyamin Mailool tentu sangat sibuk memegang kendali perusahaan. Namun, di balik kesibukan itu, ia sangat langkas berkeliling ke semua toko Matahari Department Store. Ia percaya kepada anak buahnya, percaya pada sistem yang sudah berjalan baik, tetapi ia pun tergugah untuk senantiasa melihat langsung pekerjaan-pekerjaan di lapangan.

Ketika berada di lapangan pun, Benyamin suka datang diam-diam. Ia kerap tampak berkeriapan dengan para pengunjung. Dari sini ia merasa bisa mengambil jarak dan dari jarak itulah ia melihat sisi terang dan buram dari sebuah toko.

Benyamin (50) pun rajin membaca dan menyelisik keadaan pasar agar ia dapat mengemudikan Matahari Putra Prima Tbk dalam posisi yang sangat baik. Perkembangan terkini pun dapat ia serap dengan leluasa. Ayah dua anak ini terbiasa berbicara dalam langgam kalem. Jarang terdengar ia berbicara dalam nada tinggi. Ia memiliki gaya kepemimpinan yang kuat.

Berikut wawancara dengan penyuka jogging dan berenang ini, di Jakarta, Minggu (29/4/2012).

Beberapa tahun terakhir, bisnis ritel lebih bergairah dan pelakunya lebih berani ekspansi. Apakah ini sinyal positif bisnis ritel?

Bisnis ritel memang tumbuh subur, dan tentu ini sungguh merupakan sinyal positif. Suburnya pertumbuhan ini di antaranya ditopang beberapa hal, di antaranya, situasi politik dan ekonomi dalam negeri yang nyaman, penduduk Indonesia nomor empat terbesar di dunia sehingga potensi pasar sangat besar. Lalu kita pun tahu golongan menengah tumbuh signifikan. Ada pula perubahan gaya hidup masyarakat yang mengarah pada gaya hidup ke ritel modern.

Di sisi lain, ekspansi ke daerah-daerah terus berlangsung. Maklum, konsentrasi ritel modern masih di Pulau Jawa (65 persen). Lalu, ada data yang mengungkapkan bahwa di Indonesia, satu juta jiwa penduduk dilayani 40 ritel modern. Sebagai perbandingan, di Singapura, satu juta penduduk dilayani 150 ritel modern.

Begitulah, ritel masih sangat berprospek, pasar masih terbuka amat lebar, terutama di daerah-daerah, termasuk kantong-kantong dengan sumber daya alam berlimpah. Sekarang total department store mencapai 104 toko dan hypermart mencapai 75 toko.

Ada suara beberapa ritel asing akan masuk Indonesia?

Memang berembus informasi sejumlah ritel asing hendak masuk Indonesia, di antaranya peritel dari Thailand dan Jerman. Belakangan, ada kabar peritel raksasa Amerika Serikat berkeinginan pula masuk Indonesia.

Bagi saya, Indonesia mesti menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi era ini. Kalau tidak bersiap, Indonesia akan menjadi penonton saja. Kami sendiri menyiapkan diri dengan baik, misalnya dengan memperbaiki sistem, jaringan, kesiapan sumber daya manusia, alih teknologi, dan sebagainya.

Matahari sendiri menyiapkan diri dengan saksama, di antaranya dengan lebih kuat memasarkan produk-produk dalam negeri. Pasalnya, banyak jenis produk dalam negeri kita yang sungguh tidak kalah dengan produk luar negeri.

Kini, menurut hitungan kami, terdapat 90 persen lebih produk yang kami lepas ke pasar adalah produk lokal. Intinya, kami hendak memberi panggung kepada produsen dalam negeri agar elan mereka tumbuh subur, dan mutunya makin tinggi. Kami pun memberi perhatian ekstra pada usaha kecil dan menengah (UKM). Kami beri mereka panggung atau areal khusus UKM. Kami bina UKM dari banyak aspek, di antaranya dari segi pengemasan, penyaluran produk, memberi insentif dan award kepada yang berprestasi.

Ritel adalah bisnis dengan margin amat tipis. Apa yang dilakukan Matahari agar efisien?
Kami mampu bekerja efisien, di antaranya karena jam terbang, infrastruktur yang terjaga, armada yang komplet, cabang di banyak kota besar di Indonesia, jaringan yang lengkap serta sistem distribusi yang efektif. Namun, kami tidak puas hanya sampai di situ. Kami terus berbuat untuk meraih puncak efisiensi.

Soal lain, bagaimana Anda mengajarkan kebajikan kepada para staf?
Saya suka bercakap-cakap dengan para staf. Saya sampaikan bahwa apa yang kita peroleh adalah kepercayaan dari Tuhan. Kepercayaan itu diemban dengan penuh tanggung jawab sebab tidak selamanya kita diberi kepercayaan. Menjalankan kepercayaan dengan baik sama dengan menghargai yang memberikan kepercayaan.

Soal integritas staf?
Akh, itu juga menjadi prioritas kami di sini. Kami tekankan sebuah kultur dan pola hidup yang menjunjung tinggi integritas, memelihara sikap-sikap baik. Ini perlu ditegaskan sebab godaan yang menghampiri para staf amat keras. Siapa yang tidak tahan godaan akan jatuh terjerembab.

Penekanan pada spiritual, integritas, dan memelihara sikap-sikap baik akan menghasilkan sumber daya manusia sangat bermutu. Ini pada ujungnya akan membuat kinerja Matahari Putra Prima sangat cemerlang.

Sabtu, 28 April 2012

Dahlan Iskan Jadi Konsultan Karier
Di hadapan pengunjung Kompas Karier Fair 2012, Sabtu (28/4/2012), Dahlan Iskan mengaku pernah gagal beberapa kali berbisnis, sebelum akhirnya sukses menjadi pengusaha. 

JAKARTA — Pada ajang Kompas Karier Fair 2012 yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/4/2012), Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan bertindak layaknya konsultan karier. Dalam durasi waktu sekitar 20 menit, ia memanggil sejumlah peserta pameran ke atas panggung dan menjawab pertanyaan yang diajukan para peserta tersebut.

Seorang peserta pria menyampaikan rencananya untuk membuka usaha di bidang kuliner kepada Dahlan. Lantas, Dahlan bertanya detail usaha yang mau ditekuninya. "Saya mengincarkan bisnis food and beverages, saya punya mimpi berdagang nasi uduk," sebut peserta pria itu kepada Dahlan di atas panggung dalam sesi talkshow KKF 2012, di Balai Kartini, Sabtu.

Terhadap harapan peserta tersebut, Dahlan pun memberikan wejangan. Ia tidak menganggap mimpi peserta itu sebagai hal yang sepele. Wirausaha adalah hal yang mesti didukung. Bahkan, Dahlan menyebutkan akan menutup sejumlah BUMN karena omzetnya setara dengan pedagang bakso di Blok S, Jakarta. "Ayolah, please. Tolong mulai. Bagaimana? Tolong mulai," kata Dahlan terlihat memohon kepada peserta tersebut dan disambut gelak tawa para pengunjung pameran.

"Tapi saya harus menjual motor saya, Pak," jawab peserta pria itu menanggapi permintaan Dahlan. Namun, ia akhirnya berjanji akan memulai usaha tersebut. "Saya jadi pembeli pertama nanti," ucap Dahlan.
Secara keseluruhan, Dahlan memberikan nasihat kepada peserta pameran bahwa dalam berbisnis tidak ada pelajaran, pendidikan, dan literaturnya. Bisnis baginya seperti belajar naik sepeda. "Bisnis itu seperti naik sepeda. Apa ada kursus naik sepeda, atau S-1 (sarjana) naik sepeda, dan sertifikat naik sepeda," kata dia.
Belajar naik sepeda, lanjut dia, dimulai dari dituntun atau memegang sesuatu, kemudian memakai roda tiga. Terjatuh dalam belajar naik sepeda adalah hal yang wajar. "Lalu ada yang jatuh, kapok, dan tidak mau naik sepeda? Tidak ada," tegasnya. "Jadi lakukanlah seperti itu (belajar naik sepeda)," pungkas Dahlan.

Rabu, 25 April 2012

Hadiri Inacraft, Dahlan Pakai Batik
 Dahlan Iskan

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menghadiri acara pembukaan Inacraft 2012 di Balai Sidang, Jakarta, dengan menggunakan kemeja batik lengan panjang. Ini merupakan hal yang tidak biasa mengingat biasanya Dahlan menggunakan kemeja putih lengan panjang.
"Tadi Pak Dahlan tanya, pakai batik atau kemeja biasa ya? Terus saya bilang ya pakai batik, Pak, kan resmi, supaya bareng," sebut Abdul Aziz, Staf Khusus Menteri BUMN, di sela-sela pembukaan Inacraft 2012, Jakarta, Rabu (25/4/2012).
Namun, menurut pemantauan wartawan di tempat acara, kemeja batik yang dipakai Dahlan bukan merupakan seragam batik yang dipakai panitia, yakni batik berwana merah corak Kalimantan. Kemeja batik yang dipakai Dahlan adalah kemeja batik lengan panjang berwarna dominan coklat. Tetapi, kata Abdul, Dahlan tetap menggunakan sepatu cats atau sepatu olahraga. "Ya memang kalau batik, kenapa," tambah Staf Khusus Menteri BUMN, Budi Rahman Hakim.
Untuk diketahui saja, acara pembukaan Inacraft 2012 dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Seusai acara, rombongan Presiden dan Menteri mengunjungi stan-stan di tempat pameran. Namun, Dahlan memilih untuk meninggalkan tempat acara. "Pak Dahlan sudah pergi lewat belakang," tambah Budi.

Selasa, 24 April 2012

Integritas Widjajono
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat melakukan kunjungan dan menerima pemasangan Eco Power Booster pada kendaraannya di kampus Universitas Nasional, Jakarta, Jumat (24/2/2012).

Berpulangnya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo membuat negara ini kehilangan salah satu konseptor kebijakan energi nasional yang mumpuni. Widjajono tutup usia pada Sabtu (23/4/2012) dalam pendakian Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Di mata rekan-rekannya, Widjajono merupakan satu dari sedikit ilmuwan yang konsisten terhadap ilmunya dan mengorganisasikannya untuk memperbaiki keadaan. Ia juga berani berhadapan dengan politisi dan massa saat pemerintah hendak mengeluarkan kebijakan tidak populis, yakni menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Guru Besar Bidang Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung itu merupakan wajah baru di dunia birokrasi. Namun, lulusan teknik perminyakan ITB tahun 1975 dan doktor dari University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat, ini telah lama berkecimpung dalam dunia perminyakan. Dia pernah menjadi anggota Dewan Energi Nasional serta penasihat Asosiasi Perusahaan Migas.
Selama enam bulan menjabat sebagai orang nomor dua di Kementerian ESDM, pria berambut gondrong ini dikenal sebagai sosok yang sederhana serta memiliki idealisme tinggi dan pemikiran strategis dalam pengelolaan energi. Ia juga sangat aktif membantu menteri dan presiden dalam menyusun kebijakan strategi energi dan penyusunan APBN 2012 serta penghematan anggaran negara karena perkembangan situasi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak dunia.
Latar belakangnya sebagai dosen membuat ia menjadi sosok pejabat yang tidak birokratis, dekat dengan semua kalangan, termasuk media. Penguasaannya terhadap ilmu perminyakan membuat ia bisa menjelaskan dengan jernih kepada publik dan membuka ruang dialog tentang persoalan dan kebijakan pemerintah sektor energi.
Widjajono juga dikenal sebagai sosok yang berusaha konsisten antara perkataan, pemikiran, dan perbuatan. Jika tidak bertugas sebagai wakil menteri, ia menggunakan angkutan umum, sesuai anjurannya agar pengguna mobil pribadi beralih ke kendaraan umum. Ia pun menyediakan mobilnya sebagai uji coba pemakaian alat konverter BBM ke bahan bakar gas (BBG) dan alat penghemat BBM buatan Universitas Nasional.
Kalangan DPR melihat Widjajono sebagai sosok yang sangat jujur, bersih. Ia cocok ditempatkan di kementerian yang sarat dengan kepentingan. Kehadirannya menjadi sangat penting dalam kebijakan energi nasional. Pemikirannya yang lurus dan sangat berpengetahuan amat dibutuhkan bangsa.
Dalam sejumlah kesempatan, ia mengingatkan, Indonesia bukan lagi negara kaya minyak sehingga pemerintah dan masyarakat harus cerdas dan bijak dalam memakai energi. BBM harus mulai ditinggalkan, lalu beralih ke gas dan energi alternatif yang bersih dan murah agar dana subsidi BBM bisa dipakai untuk pembangunan infrastruktur dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat juga menjadi perhatian serius mendiang Widjajono. Menurut Tumiran, anggota Dewan Energi Nasional, Widjajono berpandangan, harus ada renegosiasi kontrak pertambangan dan nilai tambah komoditas tambang untuk meningkatkan penerimaan negara dan bangsa.
Karena itu, posisi wakil menteri ESDM yang saat ini kosong agar diisi orang yang punya kompetensi di bidang energi dan idealisme tinggi seperti almarhum.

Senin, 23 April 2012

Masih Ada 15 Tahun Lagi Waktu Bekerja
Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat saat merayakan hari ulang tahunnya yang ke-65 pada Senin (23/4/2012).

Kerja adalah aktualisasi untuk menjadi contoh bagi orang lain. "Makanya, paling tidak, masih ada 15 tahun lagi waktu bekerja buat saya," kata Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat, Senin (23/4/2012).
Memang, bagi pria kelahiran Yogyakarta 65 tahun silam, tepat pada hari ulang tahunnya saat ini, semangat bekerja menjadi salah satu hal yang masih terus dilakoninya. Makanya, Irwan masih terus kelihatan di berbagai kegiatan menyangkut kinerja perusahaan mulai dari promosi iklan hingga menjaga kualitas produksi.
Irwan, sulung dari lima bersaudara, mewarisi bisnis jamu yang dikembangkan sang nenek lebih dari 70 tahun silam. Meski mengaku tidak memunyai minat berlebih untuk ikut aktif di berbagai kegiatan karitatif sebagaimana lazimnya para pelaku bisnis senior tatkala memasuki usia senja, Irwan terbilang banyak mendapat penghargaan untuk kegiatan-kegiatan bernada kemanusiaan.
Yang terbaru, tepat pada hari ulang tahunnya pula, Irwan memperoleh ganjaran Anugerah CEO CSR Award 2012 dari The La Tofi School of CSR.  Secara spesifik, pemberi penghargaan melihat konsistensi Irwan Hidayat dan perusahaannya dalam  program Mudik Lebaran dan Operasi Katarak Gratis. Dalam kesempatan kali ini, termasuk Irwan, ada 16 CEO  yang juga memperoleh penghargaan tersebut.
Menurut Irwan pula, salah satu kegiatan CSR terbaru Sido Muncul adalah bantuan untuk penghijauan penanaman pohon bakau di lahan pantai. Kegiatan tersebut baru-baru ini terlaksana di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.