Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat melakukan kunjungan dan
menerima pemasangan Eco Power Booster pada kendaraannya di kampus
Universitas Nasional, Jakarta, Jumat (24/2/2012).
Berpulangnya Wakil Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo membuat negara ini
kehilangan salah satu konseptor kebijakan energi nasional yang mumpuni.
Widjajono tutup usia pada Sabtu (23/4/2012) dalam pendakian Gunung
Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Di mata
rekan-rekannya, Widjajono merupakan satu dari sedikit ilmuwan yang
konsisten terhadap ilmunya dan mengorganisasikannya untuk memperbaiki
keadaan. Ia juga berani berhadapan dengan politisi dan massa saat
pemerintah hendak mengeluarkan kebijakan tidak populis, yakni menaikkan
harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Guru Besar Bidang
Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung itu merupakan wajah baru
di dunia birokrasi. Namun, lulusan teknik perminyakan ITB tahun 1975 dan
doktor dari University of Southern California, Los Angeles, Amerika
Serikat, ini telah lama berkecimpung dalam dunia perminyakan. Dia pernah
menjadi anggota Dewan Energi Nasional serta penasihat Asosiasi
Perusahaan Migas.
Selama enam bulan menjabat sebagai orang nomor
dua di Kementerian ESDM, pria berambut gondrong ini dikenal sebagai
sosok yang sederhana serta memiliki idealisme tinggi dan pemikiran
strategis dalam pengelolaan energi. Ia juga sangat aktif membantu
menteri dan presiden dalam menyusun kebijakan strategi energi dan
penyusunan APBN 2012 serta penghematan anggaran negara karena
perkembangan situasi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak dunia.
Latar belakangnya sebagai dosen membuat ia menjadi sosok
pejabat yang tidak birokratis, dekat dengan semua kalangan, termasuk
media. Penguasaannya terhadap ilmu perminyakan membuat ia bisa
menjelaskan dengan jernih kepada publik dan membuka ruang dialog
tentang persoalan dan kebijakan pemerintah sektor energi.
Widjajono
juga dikenal sebagai sosok yang berusaha konsisten antara perkataan,
pemikiran, dan perbuatan. Jika tidak bertugas sebagai wakil menteri, ia
menggunakan angkutan umum, sesuai anjurannya agar pengguna mobil
pribadi beralih ke kendaraan umum. Ia pun menyediakan mobilnya sebagai
uji coba pemakaian alat konverter BBM ke bahan bakar gas (BBG) dan alat
penghemat BBM buatan Universitas Nasional.
Kalangan DPR melihat
Widjajono sebagai sosok yang sangat jujur, bersih. Ia cocok ditempatkan
di kementerian yang sarat dengan kepentingan. Kehadirannya menjadi
sangat penting dalam kebijakan energi nasional. Pemikirannya yang lurus
dan sangat berpengetahuan amat dibutuhkan bangsa.
Dalam
sejumlah kesempatan, ia mengingatkan, Indonesia bukan lagi negara kaya
minyak sehingga pemerintah dan masyarakat harus cerdas dan bijak dalam
memakai energi. BBM harus mulai ditinggalkan, lalu beralih ke gas dan
energi alternatif yang bersih dan murah agar dana subsidi BBM bisa
dipakai untuk pembangunan infrastruktur dan pengentasan rakyat dari
kemiskinan.
Keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat juga menjadi perhatian serius
mendiang Widjajono. Menurut Tumiran, anggota Dewan Energi Nasional,
Widjajono berpandangan, harus ada renegosiasi kontrak pertambangan dan
nilai tambah komoditas tambang untuk meningkatkan penerimaan negara dan
bangsa.
Karena itu, posisi wakil menteri ESDM yang saat ini
kosong agar diisi orang yang punya kompetensi di bidang energi dan
idealisme tinggi seperti almarhum.